Topeng dan pesta Roh, Papua

Standard

Agats, AMA Sekarang ini banyak orang salah menyebutnya ‘Pesta Setan’ mungkin karena topeng-topeng yang digunakan kelihatan menakutkan dari topeng-topeng Ndat Jumu dan Manimar dalam upacara Pesta Roh.Padahal sebenarnya tujuan Pesta Roh bukan untuk menghadirkan ‘setan’ atau ‘roh jahat’ tetapi justru ‘roh’ para saudara. Roh yang dekat dengan keluarga yang masih hidup inilah yang mau diperingati. Pesta Roh merupakan pesta yang cukup umum di setiap kolompok Suku Asmat. Misalnya Orang Keenok/Unir Sirau (Komor, Jipawer, Sawa, Erma, Mbu-Agani dll) menyebutnya Pokman, orang Joerat (Yamasj-Yeni, Yufri-Yaun, As-Atat, Ao-Kapi dll) menyebutnya Jipay, sedangkan kelompok Safan (Basim, Ocenep, Pirien, Bayun, Pirimpaun dll) menyebutnya Yipai Pambi.

Menurut orang Asmat dari kelompok Joerat, Pesta Roh bermula dari kisah dua orang yatim piatu yang hidup di hulu sungai Sirets bersama orang kampung lain. Ringkasan ceritanya sebagai berikut: Kedua yatim piatu tersebut hidup susah. Rumah mereka juga sudah mau roboh. Dusun mereka juga sudah dirampas oleh orang lain. Semua orang kampung hidup makmur tapi mereka tidak pernah memberikam makanan kepada kedua adik-kakak yatim piatu tersebut. Suatu hari kedua anak itu membuat rencana. Mereka lalu menganyam dua topeng. Yang satu dari belahan-belahan rotan sedang topeng yang satu lagi dibuat dari kulit kayu Fum (Genemo hutan). Topeng dari rotan mereka sebut Manimar sedangkan yang dari kulit Genemo hutan disebut Ndat Jumu. Mereka pergi ke hutan. Lalu remaja yatim piatu itu mulai memakai topeng-topeng tersebut, kelihatan seram sekali. Lalu mereka mulai mengatur strategi.

Ketika orang kampung pulang memangkur sagu, kedua yatim piatu tersebut sudah menunggu. mereka mematahkan dahan-dahan pohon beringin untuk menutup jalan. Kedua yatim piatu itu mengintip, tampak bapak, ibu dan anak membawa banyak sagu. Si bapak, istrinya dan anak mereka meletakan sagu di atas tanah dan mulai mengeluarkan dahan-dahan beringin yang menghalangi jalan. Saat itu kedua yatim piatu membuat suara menakutkan dan keluar dari tempat persembunyian. Ketika keluarga itu melihat kedua topeng, mereka berteriak, “Setaaaaann” sambil lari terbirit-birit meninggalkan sagu mereka menuju perahu dan mendayung pulang ke kampung. Kedua adik-kakak itu segera melepaskan topeng dan mengambil sagu yang ditinggalkan keluarga itu. mereka kemudian membakar sagu tersebut dan makan sampai kenyang. beberapa hari berikutnya, kedua adik-kakak itu kembali beraksi dan selalu berhasil.

Orang kampung mulai merasa tidak aman dan mulai bertanya-tanya tentang kedua topeng itu. “Sebenarnya makluk apa yang menakuti kita ini?” Tanya seorang kepada yang lain. Orang kampung lalu membuat jebakan untuk menangkap kedua adik-kakak yatim piatu itu. Seperti biasa, sebuah keluarga pergi memangkur sagu dan pulang menemukan lagi ada halangan di jalanan yang mereka lewati. Sementara itu beberapa orang kampung telah siap di pinggir jalan itu. Kedua yatim piatu kembali beraksi. Mereka memakai topeng Ndat Jumu dan Manimar. Setelah keluarga itu lari meninggalkan tumang sagu mereka, kedua yatim piatu mengambilnya dan mulai lari. Saat itu pria-pria dari kampung mengintip, ternyata kedua yatim itu mulai melepaskan topeng itu. saat itulah orang kampung mengenal orang topeng itu sebagai kedua anak yatim piatu di kampung. Orang kampung segera keluar mau mengepung mereka tapi adik-kakak itu berhasil melarikan diri. “Hei, jangan panah mereka, pasti mereka akan kembali ke kampung!” Benarlah yang diduga orang kampung. Menjelang malam, kedua remaja yatim piatu itu kembali ke kampung. Keesokan harinya, tua-tua adat memanggil semua orang berkumpul di Jew, kedua anak itu juga dihadirkan. Lalu Tanya tua-tua adat kepada kedua remaja itu, “Mengapa kamu menakuti orang dan merampas sagu orang?” lalu remaja yatim piatu itu berkata, “Kami berdua lapar, tidak ada orang yang Bantu kami, dusun kami sudah dirampas sehingga kami anyam topeng dan menakuti orang iuntuk bisa mengambil sagu dan makan.” Lalu siapa yang mengajar kalian membuat topeng?” Tanya tua adat. Kata remaja yatim piatu, “Ato-Ipit yang mengajarkannya kepada kami.” Lalu mereka mulai menceritakan kepada tua-tua adat bagaimana caranya mereka menganyam topeng Ndat Jumu dan Manimar. Mendengar alas an kedua remaja yatim piatu itu, semua orang kampung menyadari bahwa mereka tidak pernah menolong kedua anak itu lalu mereka memaafkan kesalahan kedua remaja itu. Mulai saat itu semua orang kampung memperhatikan dan menjamin kehidupan kedua remaja itu. Kedua remaja itu pun bertumbuh menjadi dewasa, kawin dan hidup bersama dengan damai. Sebagai peringatan akan kisah Kedua anak yatim piatu itu, secara turun-temurun Suku Asmat membuat Pesta Roh. ***John Ohowirin

Sumber: Heriyanto,Albertus; Tuhan yang dikenal oleh Suku Asmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s